Kamis, 27 Oktober 2011

Dari Adonan Pancake Kurang Gula

StumbleUpon
Belakangan ini aku lagi gak bisa nulis, sumpah otak ku lagi boker dan mabok. Padahal hal ini udah terjadi berhari-hari yang lalu tapi aku gak bisa menuangkannya dengan baik wal hasil berhari-hari juga aku baru bisa ngrampungin cerita ku yang paling (gak) penting ini.
Pagi-pagi buta tagggal 19 kemaren, aku terkejut ketika ada suara mirip ledakan yang ternyata itu suara pintu kamarku yang diketuk dengan kasar oleh ayah gara-gara aku gak bangun-bangun. Langsung deh aku dimarah marahin lagi, yah sial banget pagi-pagi udah dapet sarapan mana belum cuci muka lagi (ya iya lah kan baru turun dari kasur). Sedikit tak menghiraukan isi sarapan itu akupun langsung bergegas menuju kamar mandi dan segera berwudlu sebelum waktu subuh. Aku sambil menggerutu dalam hati, ini gara-gara si Fatma nih yang telfon orang gak pake kira-kira seharusnya kan dia bisa pake ilmu taksir menaksir (apaan yak), yang bener aja tengah malem lebih dikit ganggu orang yang lagi enak-enaknya ngebo.
Dan ternyata dia Cuma bilang “ hallo arin, bangun kamu jangan ngebo muluk sholat gih, ulang tahun o”.
Dengan setengah sadar aku pun menimpali “ya ampun, makasih ya” padahal tadi aku sempet berfikir kalo dia telfon gara-gara lagi dikejar-kejar suster ngesot yang larinya lebih cepet dari lari dia.
“jiah, pasti udah dapet yang special nih?” Kata Fatma menggodaku.
“Enggak kok, malahan kamu yang pertama ngucapinnya duh makasih banget yak”. Masih dalam keadaan pengumpulan nyawa aku mencoba menahan muntahan yang hampir keluar lewat mulutku.
Lama-lama mulai deh dia mendongeng, yang kalo didenger bisa membuat orang menjadi tidur (selamanya). Parahanya lagi, gara-gara aku angkat telfon dari dia, dia gak mau matiin telfonnya lagi. Yah terpaksa deh, satu jam penuh aku tempelkan benda panas dikupingku, sambil tiduran, nangis-nangis sama dirubungin laler dimana-mana, sungguh menyedihkan. Aku tunggu dan tunggu hingga 60 menit itu berlalu kemudian aku shalat tahajud seperti yang disarankan Fatma. Dari sini aku sadar ternyata beberapa tahun kemaren aku bukan apa-apa, meskipun sekarang masih bukan apa-apa (kan aku Arin bukan “bukan apa-apa”).
Kembali lagi keatas, eh maksudku cerita sebelumnya. Emang dasar aku doyan tidur, habis sholat subuh aku ketiduran lagi dan dimarahin lagi. Bangun kesiangan berangkat kuliah kesiangan juga. Makin bingung lagi karena suatu keadaan memaksa untuk tidak ngebut. Maklum lah daripada entar aku nangis-nangis di tengah jalan gara-gara rantai motorku lepas. Karena beberapa hari yang lalu hal itu terjadi saat aku diperjalanan main kerumah niput, tapi untungnya si rantai lepas pas digang deket rumah niput.
Lebih lambat dari niput, (eh siput) aku berjalan menaiki motor, eh salah ya… maksudku aku mengendarai motor lebih lambat dari niput, eh siput (maaf). Duh kok jadi kebanyakan eh -_-
Jalanan rumah-kampus parah udah kayak naik turun gunung melewati samudra dan menerjang badai, ditambah tracking yang sangat ekstrim kerena melewati jembatan gantung dari kayu yang sempit udah mau roboh. Tapi tenang, yang sebenarnya gak selebay itu kok, cuman parah aja kalo kerumahku pasti pada gak bisa pulang. Sebenernya bukan karena track ekstrim itu tapi karena gak hafal jalan pulang. Contohnya si Nining udah berapa kali dia maen kerumah, selalu aja nyasar dan kenapa pula nyasarnya ke warung makan. Padahal dirumah udah tak kasih makanan banyak (yah meskipun semuanya sisa) masih aja kalo pulang dia nyasar di warteg. Aduh, ngomong apa sih? Hehe maaf yak kok jadi ngelantur ceritanya.
Oke, balik deh. Assalamualaikum, aku pulang dulu yah. Aduh, nglantur lagi nih, maklum jam-jam segini emang jadwal.
Sampe kampus, untung gak telat. Tapi untung telat. Pasti bingung deh maksudku, untung aku gak telat, tapi untung (untung yang lain: dosen) datang telat. Seneng deh, kalo sama Pak Untung pokoknya berasa kayak jadi anak TK haha. Pasti heran, sebenernya aku juga heran. Tapi ya, pokoknya gitu titik.
Aku duduk disebelah Nining yang saat itu dia sedang asik entah lagi ngapain, tiba-tiba dia mengambil sebuah bungkusan dibalik jaket yang diletakkan didepan bangkunya dan menyerahkannya padaku. “aih, kue… makasih ya Ning?” segelak tawa tersunggging dari wajahku.
Nining mengambil tangan ku seraya berucap “Selamat ulang tahun Arin”. Dosenpun datang…
######
Akhirnay pada pukul 11.00 kuliah KMB selesai. Tapi, ini bukan malah jadi senang karena aku gak pernah tau apa yang bakal terjadi. Menunggu kuliah berikutnya sepanjang 5jam, seperti biasa aku gak bakalan mau pulang tapi kita (aku dan teman-teman) selalu di kosannya si Ana. Tentunya setelah kita beli beberapa menu andalan kalo gak nasi penyet ya nasi rames, pilihan mudah dan terjangkau (iklan).
Sampai dikos, gak tanggung-tanggung kami langsung menghajar menu yang bukan dari salah satu diatas. Salad jowo yang super pedas telah membakar bibir sampai mengeluarkan air hidung ku (sepertinya kata ini sedikit aneh). Berburu air disini susah, karena tidak hanya air sumur yang kering tapi juga air minum. Terpaksa deh ngos ngosan sambil ngangin-anginin bibir dan lidah “ayo padamkan apinya” hehe.
Selesai makan, tanpa ijin dan tanpa sepengetahuan ku ternyata dari belakang, Fatma mengguyur ku dengan air. Sontak langsung baju dan kerudungku basah semua. Emang gak bener si Fatma, habis guyur aku langsung kabur tu anak, sial! Kemudian bertubi-tubi hujan lokal itu membasahiku yang kali ini dibuat Ana. Semua basah, dan aku terlihat kayak tikus kejebur got. Akhirnya Ana meminjamiku T-shirt, tapi aku masih pakai celana setengah basah.
Gak lama setelah insiden hujan lokal, berbondong bondong kita pergi ke kos Andri dan Uly untuk nebeng sholat dhuhur (maklum gak ada air). Aku berjalan didepan bersama Septi, sementara Ana dan Sofi pergi ke kos Arsad, gak tau deh mau ngapain mereka, dengan pikiran gak mau tau urusan orang aku terus lanjut berjalan sama Septi. Ketika sampai di kos Andri, baru aku sadar kalau kita Cuma berdua, ternyata Widya dan Sian ngikut ngapel kekos Arsad. Di dalam kamar kos Okti da Yuan sudah tepar didepan kipas angin, udah kayak ikan asin dijemur , beda dikit kalo ini ikan kembung dianginin.
Tak lama setelah aku selesai sholat, rombongan garong datang. Lalu, satu persatu mereka bergiliran sholat. Kemudian aku diajak Ana dan Septi untuk balik duluan ke kos Ana. Langsung saja aku setuju soalnya aku sudah tak tahan di kos andry yang sempit, ditambah lagi dengan 10 penghuni yang semakin membuat panas dan sesak. Sesampainya di kos Ana aku masuk dan menonton tv, sementara Ana dan Septi berada diluar. Tak lama setelah itu Sofi, Andry, Yuan, Okti, Susi, Widya, dan Uly datang sehingga membuat aku keluar untuk gabung dengan mereka. Aku yang masih duduk-duduk diteras, kemudian ana menghampiriku “hey, celanamu basah Rin, sebaiknya kau pinjam celana ku saja gimana? Masih dengan pikiran bego tak akan terjadi sesuatu “Tak usah Na, cuman basah dikit kok lagian aku males”
“ah, tau gitu sebenarnya tadi aku mengguyurmu lebih banyak lagi” ternyata Ana masih tak puas dengan perbuatannya.
Aku mulai mengalihkan pandangan ke arah Ana “oh bagus yah, mau pake air apa? week…”
Tanpa menimpali ejekanku Ana bergegas menghampiri Widya yang ada di balik gerbang kos. Aku kurang tahu kenapa anak-anak pada membujuk Widya, seolah-olah dia sedang sedih atau marah. Tapi aku pikir si Widya gak masuk akal deh, padahal tadi fine kok dan ini membuat aku masih bertahan di tempat duduk ku. Aku mulai mem-browsing facebook ku lebih jauh, tapi semakin lama anak-anak tampak menghampiri Widya, yah kecuali Okti, Yuan dan Sofi yang sejak tadi asik mengosek (baca: memetik/barangnya sudah habis/sisa) jambu. Lalu, akupun merasa tak enak jika aku terus diam ditempat tampa memberi sedikit care ku pada Widya. Saat aku jalan, tiba-tiba Andry merampas hp ku yang masih berlayarkan Beranda Facebook. Didepan gerbang, aku mendapati Widya memposisikan arah badannya didepan gerbang, sehingga ku tak bisa melihat wajahnya, kemudian aku tepuk pundaknya dan berkata “Wid, kamu kenapa?”
Widya mulai menoleh, dan spontan aku juga melihat bungkusan air berwarna putih berada digenggaman Widya. Kemudian tampa aku bisa berbuat banyak kecuali menundukkan punggungku lebih dalam, air itu pecah mengalir dari rambut sampai turun kebawah. Aku menjerit, tapi seiring jeritan ku datang lagi sesuatu yang dipukulakan ke punggung dan kepalaku, pecah dan bau amis hoek. Aku mulai berotak, tapi dari arah yang tak ku ketahui datanglah hujan abu putih yang hanya mengenai aku. Setelah terjadi serangan yang bertubi-tubi tersebut para pelaku mulai kabur menjauh sementara aku hanya menjerit sambil melihat diriku yang sudah tampak seperti adonan Pancake kurang gula. Tak kehabisan akal, aku yang tampak seperti orang gila berlari tunggang langgang mengejar mereka. Langkahku terhenti, kalau aku lanjut lari pasti aku akan sangat malu karena didepan adalah jalan menuju kampus dan pasti aku akan disangka orang gila, (ini menyedihkan padahal kan aku hanya aneh). Aku mulai clingak clinguk, Yuan, Sofi dan Okti masih asik dengan jambu-jambu meraka tak mungkin aku menghampiri dan memeluk mereka, mungkin juga mereka tadi tidak ikut-ikutan. Lalu aku melihat Sian lari berlawanan arah sendirian, “Aha, sasaran empukh nih” sambil membatin aku langsung lari menghampiri Sian seraya menjulurkan tanganku. Satu kali ku kejar belum kutangka aku berhenti, lalu aku kejar lagi dan YAP… aku peluk dia dari belakang hingga Sian memberontak. Setelah puas memeluk Sian aku lepaskan dia, tapi kembali dia medatangiku dengan membawa adonan tepung+air lalu terjadi kejar-kejaran lagi. Sampai kita lelah dan aku berfikir ingin segara menoton serial drama korea sebelum terlambat. Akhirnya mereka mengantarku untuk mandi dikos Andry, di perjalanan sungguh memalukan tak ada satupun yang mau mendekatiku, sial.
karena pas jadi adonan pancake kurang gula tidak terfoto, wal hasil cuma sisa-sisanya yang terfoto
Tanpa pikir panjang aku langsung bergegas masuk kamar mandi, sementara Sian, Septi dan Ana mengantri untuk sekedar menghilangkan bau amis yang menempel di tubuh mereka. Aku mulai memutar tombol shower ku nikmati dinginnya air lalu terpikir olehku “ah, saatnya balas dendam aku akan berlama-lama mandi saja haha..”. Ku hiraukan long-longan mereka yang segera ingin masuk kamar mandi, saat ini cara yang tepat adalah dengan pura-pura tuli. Setelah semua selesai kita balik lagi ke kos Ana, entah udah berapa kali bolak balik gini. Kembali kita nangkring didepat tv, meskipun aku merasa masih dengan bau-bau amis di rambutku tapi kuacuhkan sajalah, toh nanti berangkat kuliah aku pakai kerudung setidaknya bisa sedikit terhambat hehe.
######
Jam 03.45 kami berangkat untuk makul Kepprof. Dijalan kami bercanda-canda, “eh, udah gini tiba-tiba nanti kosong lagi” kata Sofi.
Karena Sian sebagai seksi pendidikan tidak terima, dia menyangkal “ah, gak mbak tadi aku sudah bilang jangan dibatalkannn”.
“Yah kalau sampai ini kosong, bener-bener sial aku hari ini! mending tadi pulang aja deh kan gak amis gini” kata ku dengan nada lemas.
Lalu semua menertawakan ku “hahaha…”
Sampai didalam kelas, masih sedikit anak yang datang. Semua temanku tadi masih menggoda ku terutama Sian yang paling semangat karena tadi dia ku peluk dengan adonan pancake. Tak kehabisan akal aku juga mulai mengancan Sian “oh gitu ya, oke aku tak akan mencarikan daun sirih untukmu besok dan aku gak mau menghubungi Pak dosen untuk seminarmu besok! Mending kamu atur sendiri deh week”.
Sian mulai mereda “yah, kamu ngancemnya gitu ik, padahal tadi Sofi juga ikut loh malah aku yang Cuma dijadiin sasaran” timpal Sian mambela diri.
Sofi yang namanya ikut terseret pun juga tak terima “aih, kenapa aku jadi kamu libatkan”
Tak mau kalah aku menjawab “Sian, lagian kamu tadi larinya kearah situ, jadi posisi yang paling mudah adalah posisimu”.
Makin seru perang lidah kami, hingga tak tau ternyata sudah kearah jauh kami berbicara. Tapi apapun itu, kami tak pernah menggangap itu serius karena kami suka bercanda. Suasana makin riuh dengan kedatangan Yogo yang merayu Nining layak nya si raja gembel eh, raja gombal (maaf). Sampai- sampai Nining mengeluarkan air matanya karena terkekeh terlalu lebaynya, mungkin sedikit beda dari kita tapi ini nyata setiap dia tertawa terpingkal-pingkal air matanya turun. Kemudian setengah jam berjalan, 45 menit ber lalu dan semua mulai gelisah dan resah. Apalagi Sian yang sejak tadi sudah memegangi kepalanya karena Pak Dosen tidak bisa dihubungi dan dimessage tidak di balas, makin tambah emosi jiwa seiring banyaknya protes dari anak-anak, yang seolah-olah men-judge dia.
“eh, ini dosennya mana sih? Jadi kuliah gak sih? Sie.pend nya siapa sih?” protes bermunculan dari anak-anak.
Sian pun naik pitam, dia maju di muka kelas, menggebrak meja sehingga celoteh berhenti. Tanpa pikir panjang aku yang suka mengabadikan moment langsung men-touch camera dan men-set untuk video, Nining dan aku malah merasa geli sendiri karena tingkah Sian itu. Sian pun mulai meluapkan amarahnya, tiba-tiba ada suara muncul dari Ardi yang membuat kesetanan Sian semakin menjadi-jadi. Aku terus mengarahkan camera ke wajah Sian kemudian ke wajah Ardi lalu Ke Sian lagi. Sian yang menyadari adanya camera ini langsung mendampratku “Arinnn!! Aku serius ini, matikan cameranya!!”. Selayaknya playboy yang ketahuan di sebuah realityshow, uh…penuh dengan amarah. Spontan aku dan Nining diam dari gelak tawa dan aku langsung menyembunyikan hp serta tak lupa aku men-save dulu moment yang tadi itu. Suasana semakin petang dan sedikit tegang menyeramkan, amarah masih berlanjut Sian mengacung-acungkan jari telunjuknya kearah kami. Lalu akhirnya Yogo sebagai komting dikelas kita menengahi konflik ini. Kami pun mulai menenangkan Sian, dengan nada lembut aku berkata “Sian, aku cabut ancamanku tadi deh yang tentang daun sirih dan seminarmu besok, aku akan mengurusnya oke?”
Sian: (mulai terkekeh) “ahaha… asik… makasih Arin, beneran lhoh jangan bohong”
Aku: MATI.
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit
Feed

Minggu, 02 Oktober 2011

Teman Saya

StumbleUpon
Kadang aku bingung deh sama temen ku yang satu ini. Gak tau kenapa setiap kali aku lagi bareng sama dia banyak sekali terjadi keanehan dan aku selalu tertawa hahaha. Lama-lama jadi takut deh sama dia, takut kalau-kalau keanehannya dia hasil dari dia deket sama aku, sumpah kasian aku.
Aku tahu sebenernya dia itu takut tapi sok sokan bisa manjat pohon. Dia pikir dia bisa nyaingin monyet?? Lalu aku saranin aja supaya dia pake pakean badut monyet terus unjuk gigi deh didepan kampus, nah lumayan tuh buat nambah-nambah uang jajan kalo laper, supaya kagak makan penyet terus… kepala tempe, kepala tempe, telur tempe, tahu tempe… kasian banget dia. Apa lagi tu emaknya kagak pernah masak. Gak tau deh tu anak perutnya semelar apa, tiap siang dikit langsung ngajakin makan “eh, makan yo?” aku yakin siapapun kalian bakalan langsung mau kalo diajak makan. Ya iya lah, kecuali kalo diajak ke WS (baca: WC) ogah kali. Emangnya temen ku yang satunya, tiap kali ngajak seseorang itu pasti ke WS kapan pun itu, sampe aku mikir nih anak sebenernya ada janji sama makhluk apa sih di WS, jangan jangan udah emang kerjaannya “ngosek WS” ?
Balik ke temen ku, sering ya tu anak kalo lagi makul malah menghayal berimajinasi konyol sambil nulis-nulis diary. Belakangan aku tahu ternyata yang dia tulis itu tentang dua cowok paling fenomenal paling terkenal, paling dicari-cari orang seantero kampus yaitu Mas Budi sama Mas Supri alias mereka itu pembawa alat-alat important dikampus, ya aku sebutin seperti remot AC dan remot LCD bahkan Si Mas Budi yang setia dengan seperangkat alat pel-nya. Mungkin temen ku naksir abis sama mereka, giamana enggak? Dosen lagi serius nerangin, mahasiswa lagi serius juga ndengerin eh, dia malah asik nulis surat cinta buat kedua idolanya itu. Aku baca lagi note cinta dia, ternyata dia juga suka ngelirik “lek-lek” tukang bangunan disebelah. Dia nunggu “lek-lek” itu buat mainin musik romantis dari alunan paku, palu, dan gergaji sambil teriak “NEW PALAPA”.
Lanjut lagi pada keanehan tempo hari, aku baru nyadar kalo dia ternyata naksir sama mantannya temen ku yang kalo nulis setatus selalu menyamakan “a=@”. Gue makin pusing kenapa bisa “a=@”, itu sebenernya keypad hpnya kagak ada huruf “a” nya apa emang hp nya rusak? Apa otaknya yang lari-lari sampe dengkul? Jawaban kira-kira yang masih buat aku bingung. Dan Setatus konyol dari orang itu di like sama temen ku lagi… yah kurang kerjaan banget tu temen ku, mending dari pada aku susah susah ngelike status gakjelas dan gak tau juntrungannya, mendingan buat nganterin temen gue ke WS (baca:WC) aja, siapa tahu nanti aku dapet ilmu “ngosek” buat dipraktekin ke brondong-brondong kampus (haha, sumpah gak nyambung).
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit
Feed